Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Selasa, 20 Oktober 2026

Pelita yang Menyala dalam Kerahiman

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Pelita yang Menyala dalam Kerahiman
“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya sedang berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.”Lukas 12:37 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Jiwa-jiwa yang menyebarkan devosi kepada kerahiman Ilahi akan Kulindungi seumur hidupnya seperti seorang ibu yang penuh kasih sayang melindungi bayinya; dan pada saat kematiannya, Aku tidak akan tampil sebagai seorang Hakim bagi mereka, tetapi sebagai Juru Selamat yang maharahim... Berbahagialah jiwa yang sepanjang masa hidupnya membenamkan diri dalam Sumber Kerahiman sebab ia tidak akan dihadapkan pada pengadilan.”

Buku Harian Santa Faustina 1075

Salam Kerahiman🙏

Sahabat-sahabat terkasih dalam Kerahiman Allah

Baik Injil Lukas 12:37 maupun Buku Harian Santa Faustina 1075 sama-sama dibuka dengan sebuah sabda bahagia: "Berbahagialah..." Keduanya berbicara tentang satu momen penentuan yang paling agung dalam hidup manusia, yaitu saat kita berjumpa muka dengan muka dengan Tuhan—entah pada akhir zaman, maupun pada jam kematian kita masing-masing. ​

Dalam bayangan manusiawi kita, kedatangan seorang "Tuan" atau "Hakim" sering kali memicu rasa cemas dan takut. Kita merasa gentar karena menyadari betapa banyak kelemahan, dosa, dan kekurangan kita. Ketika hari terakhir itu tiba, seperti yang tertulis dalam BHSF 1075, jiwa kita memang "tidak akan mempunyai senjata apa pun untuk membela diri" di hadapan kesucian Allah yang mutlak. ​

Namun, di sinilah letak kejutan kasih Allah yang melampaui nalar manusia. Dalam Lukas 12:37, Yesus membalikkan logika dunia: Sang Tuan yang pulang mendapati hambanya setia berjaga tidak bersikap angkuh atau menuntut. Sebaliknya, Sang Tuan justru mengikat pinggang-Nya, mempersilakan hamba-Nya duduk di meja perjamuan, dan Ia sendiri datang melayani mereka. ​

Gambaran Sang Tuan yang sedemikian lembut dan penuh kasih ini diterjemahkan dengan sangat indah oleh Yesus kepada Santa Faustina dalam BHSF 1075. Bagi jiwa yang "berjaga"—yaitu mereka yang sepanjang hidupnya membenamkan diri dalam Sumber Kerahiman dan mewartakannya—Tuhan tidak akan datang sebagai Hakim yang dingin dan menakutkan. Ia akan hadir bagaikan seorang ibu yang mendekap bayinya, dan menyambut kita sebagai Juru Selamat yang Maharahim. Pengadilan yang menakutkan berubah menjadi perjamuan kasih yang membahagiakan. ​

Pesan untuk Kita

Bagaimana cara kita "berjaga-jaga" dengan pinggang berikat dan pelita yang menyala di tengah kesibukan hidup sehari-hari?

1. ​Membenamkan diri dalam Sumber Kerahiman setiap hari: Jangan menunggu hari esok untuk bertobat atau berdoa. Datanglah kepada Yesus dalam Sakramen Tobat, Ekaristi, dan doa-doa harian dengan hati yang penuh kepercayaan (Yesus, Engkaulah andalanku).

2. ​Menyebarkan Kerahiman Ilahi secara nyata: Pelita iman kita tetap menyala ketika kita membagikan belas kasih Tuhan kepada sesama—melalui perbuatan baik, kata-kata yang menguatkan dan mengampuni, serta doa bagi mereka yang membutuhkan.

3. ​Hidup dalam damai, bukan ketakutan: Jika sepanjang hidup kita selalu berlindung di bawah mantel Kerahiman-Nya, kita tidak perlu lagi takut menghadapi masa depan ataupun kematian. Kita tahu pasti siapa yang akan kita jumpai di balik pintu keabadian: bukan seorang Hakim yang siap menghukum, melainkan Sahabat dan Juru Selamat yang siap melayani dan memeluk kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang Maharahim, terima kasih atas janji-Mu yang begitu menghibur hati kami. Sering kali kami merasa lelah dan cemas memikirkan kerapuhan serta dosa-dosa kami. Namun sabda-Mu hari ini mengingatkan kami bahwa Engkau adalah Tuan yang penuh kelembutan dan Juru Selamat yang mengasihi kami bagaikan seorang ibu. ​

Bantulah kami, ya Yesus, agar di tengah kesibukan dunia ini, pelita iman dan kasih kami tetap menyala. Ajarilah kami untuk setiap hari membenamkan diri dalam Sumber Kerahiman-Mu dan menjadi saluran belas kasih bagi sesama di sekitar kami. Jagalah kami seumur hidup kami, agar kelak ketika Engkau datang mengetuk pintu kehidupan kami, kami siap menyambut-Mu dengan penuh sukacita dan masuk ke dalam perjamuan kasih-Mu yang kekal. Yesus, Engkaulah andalanku. Santa Faustina doakanlah kami.

Amin.