Kamis, 15 Oktober 2026
Ketika Kesalehan Kehilangan Cinta
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk dan orang yang berusaha untuk masuk kamu halang-halangi!”Lukas 11:52 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Pujian itu melukai Hati-Ku sebab cinta sudah diusir dari biara-biara.”
Buku Harian Santa Faustina 1702
Salam Kerahiman🙏 Sahabat-sahabat terkasih dalam Tuhan.
Dalam Injil hari ini, Yesus menegur para ahli Taurat karena mereka memiliki pengetahuan tentang hukum Allah, tetapi justru menghalangi orang lain untuk mengenal kebenaran. Mereka seharusnya menuntun sesama semakin dekat kepada Tuhan, tetapi sikap mereka malah menjadi batu sandungan.
Melalui Buku Harian Santa Faustina No. 1702, kita mendengar ungkapan kesedihan Yesus terhadap jiwa-jiwa yang dipilih secara istimewa, tetapi kehilangan cinta dan kesalehan sejati. Mereka masih memuji Tuhan, tetapi hati mereka dipenuhi kesombongan, egoisme, dan kemunafikan.
Saudara-saudari terkasih, betapa menyedihkan jika pujian masih terucap dari bibir kita, doa masih kita panjatkan, dan pelayanan masih kita jalankan, tetapi kasih perlahan-lahan menghilang dari hati kita.
Kita perlu menyadari bahwa kesalehan yang tidak menghasilkan kasih dapat kehilangan maknanya. Tuhan tidak hanya melihat seberapa sering kita berdoa atau seberapa banyak pelayanan yang kita lakukan. Tuhan juga melihat bagaimana kita memperlakukan sesama, terutama ketika kita berbeda pendapat, kecewa, atau merasa tidak dihargai.
Renungan ini bukan untuk menunjuk kesalahan orang lain, melainkan untuk mengajak kita memeriksa hati sendiri. Sebab, kemunafikan dapat tumbuh ketika kita lebih sibuk menjaga penampilan rohani daripada membiarkan Tuhan mengubah diri kita.
Yesus menegur dengan keras bukan karena Ia berhenti mengasihi, melainkan karena Ia menghendaki pertobatan. Teguran-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk kembali kepada kasih yang sejati.
Mungkin hari ini kita perlu bertanya dalam keheningan: apakah pelayanan yang kulakukan sungguh lahir dari kasih kepada Tuhan? Apakah kehadiranku membawa damai bagi sesama? Apakah aku tetap mampu mengasihi ketika tidak dihargai, mengampuni ketika disakiti, dan rendah hati ketika ditegur?
Sahabat-sahabat terkasih, Tuhan tidak menghendaki kita hanya menjadi orang yang pandai berbicara tentang kasih. Ia menghendaki kita menjadi pribadi yang sungguh menghadirkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari.
Marilah kita kembali kepada cinta yang mula-mula. Jangan biarkan rutinitas doa, kegiatan rohani, ataupun pelayanan membuat hati kita kehilangan kelembutan. Sebaliknya, biarlah semua itu semakin mendekatkan kita kepada Hati Yesus yang penuh kerahiman.
Sebab, yang paling berkenan kepada Tuhan bukanlah kesalehan yang hanya terlihat, melainkan kasih yang sungguh hidup dalam hati dan nyata dalam perbuatan.
Pesan untuk Kita
Sahabat-sahabat terkasih,
Jangan sampai kita rajin melayani Tuhan, tetapi lupa mengasihi sesama. Jangan sampai kita fasih berbicara tentang iman, tetapi sulit mempraktikkan kerendahan hati dan pengampunan.
Hari ini, marilah kita tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah kulakukan untuk Tuhan?” tetapi juga, “Apakah yang kulakukan sungguh lahir dari kasih?”
Biarlah doa kita mengubah hati, pelayanan kita membawa kebaikan, dan kehadiran kita menjadi jalan bagi sesama untuk mengalami kerahiman Allah.
Jangan biarkan kesalehan kehilangan cinta, sebab tanpa kasih, kita dapat semakin dekat dengan kegiatan rohani, tetapi justru semakin jauh dari Hati Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang penuh kerahiman, ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mengutamakan penampilan lahiriah daripada kemurnian hati.
Jangan biarkan kesombongan, egoisme, dan keinginan untuk selalu benar menguasai diri kami. Perbaruilah cinta kami kepada-Mu, agar doa dan pelayanan kami sungguh lahir dari hati yang tulus.
Ajarlah kami untuk rendah hati ketika ditegur, sabar ketika menghadapi perbedaan, dan tetap mengasihi ketika kami tidak dihargai.
Semoga melalui kehidupan kami, semakin banyak orang mengalami kasih dan kerahiman-Mu. Jadikanlah kami pelayan-pelayan yang tidak hanya memuji nama-Mu dengan bibir, tetapi juga memuliakan-Mu melalui perbuatan kasih setiap hari.
Yesus, Engkaulah andalan kami. Santa Faustina doakanlah kami.
Amin.
