Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Kamis, 1 Oktober 2026

Menjadi Kecil di Hadapan Allah

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Menjadi Kecil di Hadapan Allah
“Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”Matius 18:4 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Benar, dan Aku menyertai engkau sebagai seorang anak untuk mengajarkan kepadamu kerendahan hati dan kesederhanaan.”

Buku Harian Santa Faustina 184

Salam Kerahiman🙏

Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah.

Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Pertanyaan ini pernah muncul di antara para murid. Mereka mungkin membayangkan bahwa menjadi besar berarti memiliki kedudukan, kehormatan, atau pengaruh. Tetapi Yesus memberikan jawaban yang sama sekali berbeda. Ia menunjuk seorang anak kecil dan berkata bahwa kita harus bertobat dan menjadi seperti anak kecil.

Dalam BHSF 184, Santa Faustina mengalami sesuatu yang sangat indah. Ia melihat Kanak-kanak Yesus. Meskipun Yesus tampak begitu kecil, Faustina mengenali bahwa Ia tetaplah Pencipta dan Tuhannya. Justru dalam rupa seorang anak kecil itu, Yesus mengajarkan kepadanya kerendahan hati dan kesederhanaan.

Di sinilah Injil dan pengalaman Faustina bertemu. Menjadi kecil bukan berarti menjadi tidak berarti. Menjadi kecil berarti tidak menjadikan diri sendiri pusat kehidupan. Kita belajar mengandalkan Tuhan, menerima kehendak-Nya, dan tidak selalu mencari pengakuan atau pujian dari manusia.

Kadang kita ingin menjadi besar di mata orang lain. Kita ingin dihargai, didengar, dianggap penting, bahkan ingin pengorbanan kita diketahui. Namun Yesus mengajak kita mengambil jalan yang berbeda: menjadi kecil di hadapan-Nya.

Faustina juga menunjukkan bahwa kerendahan hati bukan hanya sikap dalam hati, tetapi diwujudkan dalam kesediaan menerima penderitaan dan kesulitan sebagai persembahan kasih. Ia berkata bahwa ia menghimpun segala penderitaan dan kesulitannya menjadi sebuah buket bagi Yesus.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita sungguh mengasihi Yesus, hal-hal yang berat pun dapat kita persembahkan kepada-Nya. Bukan karena penderitaan itu menyenangkan, tetapi karena kita percaya bahwa kasih kepada Tuhan membuat setiap pengorbanan memiliki makna.

Mungkin hari ini kita sedang menghadapi sesuatu yang tidak mudah: kesalahpahaman, kekecewaan, masalah keluarga, pekerjaan, atau pergumulan pribadi. Yesus mengajak kita untuk tidak selalu bertanya, “Mengapa aku harus mengalami ini?”, tetapi perlahan belajar berkata, “Tuhan, aku persembahkan ini kepada-Mu sebagai tanda kasihku.”

Menjadi kecil berarti belajar percaya bahwa kita tidak harus mengendalikan semuanya. Kita boleh menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan, seperti seorang anak yang percaya kepada bapanya.

Dan mungkin justru ketika kita bersedia menjadi kecil di hadapan Tuhan, di situlah kita menjadi besar dalam Kerajaan-Nya.

Pesan untuk Kita

Jangan takut menjadi kecil di hadapan Tuhan.

Belajarlah rendah hati, sederhana, dan tidak selalu mencari pengakuan manusia. Persembahkan setiap penderitaan, kesulitan, dan pengorbanan kita kepada Yesus sebagai buket kasih.

Karena di hadapan Tuhan, hati yang kecil dan penuh kasih jauh lebih berharga daripada kebesaran yang dicari demi diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah kami menjadi kecil di hadapan-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan, keinginan untuk dipuji, dan keinginan untuk selalu dianggap penting.

Berikanlah kepada kami hati yang sederhana, rendah hati, dan penuh kepercayaan kepada-Mu.

Ketika kami menghadapi penderitaan dan kesulitan, ajarlah kami untuk tidak mengeluh, tetapi mempersembahkannya kepada-Mu sebagai tanda kasih kami.

Yesus, jadikanlah hati kami seperti seorang anak yang percaya sepenuhnya kepada Bapa. Biarlah dalam setiap keadaan kami semakin dekat kepada-Mu dan semakin mampu berkata:

“Tuhan, aku serahkan semuanya kepada-Mu. Jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”

Santa Faustina, doakanlah kami

Amin.