Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Rabu, 30 September 2026

Ketika Kehendakku Kuserahkan Kepada-Nya

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Ketika Kehendakku Kuserahkan Kepada-Nya
“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”Lukas 9:62 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.” “Mulai hari ini, aku akan melakukan Kehendak Allah di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.”

Buku Harian Santa Faustina 374

Salam Kerahiman🙏 Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya membutuhkan hati yang sungguh-sungguh. Ia berkata bahwa orang yang sudah membajak tetapi masih menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.

Menoleh ke belakang bukan sekadar melihat masa lalu. Dalam kehidupan rohani, kita bisa saja mengatakan ingin mengikuti Yesus, tetapi hati kita masih terikat pada kehendak sendiri, kenyamanan, keinginan, atau rencana yang belum rela kita serahkan kepada Tuhan.

Hal yang sangat indah kita temukan dalam pengalaman Santa Faustina. Pada tanggal 4 Februari 1935, ia menulis bahwa kehendaknya sendiri sudah tidak ada. Ia belajar menyalibkan kehendak dirinya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Allah: di mana saja, kapan saja, dan dalam apa saja.

Inilah sikap seorang murid Kristus. Mengikuti Yesus bukan berarti kita selalu memahami jalan yang sedang Ia tunjukkan. Terkadang jalan Tuhan berbeda dengan keinginan kita. Terkadang kita harus meninggalkan sesuatu yang kita sukai, menerima keadaan yang tidak kita pilih, atau berjalan dalam ketidakpastian.

Namun, Yesus mengajak kita untuk tidak terus menoleh ke belakang.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan yang membuat kita sulit berkata, “Jadilah kehendak-Mu.” Kita masih ingin Tuhan mengikuti rencana kita. Kita ingin semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Tetapi melalui sabda-Nya, Yesus mengajak kita untuk percaya bahwa kehendak-Nya selalu membawa kita menuju keselamatan.

Seperti Santa Faustina, kita pun dapat belajar berkata: “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi.”

Menyerahkan kehendak bukan berarti menyerah terhadap kehidupan. Sebaliknya, itu adalah tindakan iman: percaya bahwa Tuhan mengetahui jalan yang terbaik, bahkan ketika kita belum memahami ke mana jalan itu membawa kita. Pesan untuk Kita

Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah aku sungguh mengikuti Yesus, atau aku masih ingin Yesus mengikuti kehendakku?

Jangan terus menoleh ke belakang. Jangan takut meninggalkan apa yang harus ditinggalkan demi mengikuti Tuhan.

Belajarlah seperti Santa Faustina untuk berkata:

“Yesus, kehendakku kuserahkan kepada-Mu. Tuntunlah aku untuk melakukan kehendak-Mu di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.”

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang penuh kerahiman, aku sering ingin berjalan menurut kehendakku sendiri. Aku masih sulit melepaskan keinginan, rencana, dan hal-hal yang membuatku nyaman.

Ampunilah aku, Tuhan.

Ajarlah aku seperti Santa Faustina untuk menyerahkan kehendakku kepada-Mu. Berikanlah aku hati yang percaya, sehingga aku mampu mengikuti-Mu tanpa terus menoleh ke belakang.

Ketika jalan-Mu terasa sulit, kuatkanlah aku. Ketika aku tidak memahami rencana-Mu, ajarlah aku untuk tetap percaya. Dan ketika kehendakku berbeda dengan kehendak-Mu, berilah aku kerendahan hati untuk berkata:

“Yesus, aku percaya kepada-Mu. Jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”

Semoga dalam segala keadaan, aku mampu melakukan kehendak-Mu di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja. Santa Faustina, doakanlah kami.

Amin.