Senin, 21 September 2026
Yesus Datang Memanggil dan Menyembuhkan yang Berdosa
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”Matius 9:12 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Hati-Ku meluap-luap mengalirkan kerahiman yang melimpah kepada jiwa-jiwa, teristimewa kepada jiwa orang-orang berdosa yang malang.”
Buku Harian Santa Faustina 367
Salam Kerahiman🙏 Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah
Dalam Injil hari ini, Yesus memanggil Matius, seorang pemungut cukai, untuk mengikuti-Nya. Di mata banyak orang, Matius adalah seorang berdosa dan tidak layak. Namun Yesus justru datang kepadanya dan berkata, “Ikutlah Aku.”
Yesus bahkan makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ketika hal itu dipersoalkan oleh orang Farisi, Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Perkataan Yesus ini menunjukkan betapa besar kerinduan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Ia tidak menjauhi orang yang berdosa, tetapi mendekatinya dengan kerahiman dan mengundangnya untuk berubah.
Hal ini sangat indah bila kita renungkan bersama pesan Yesus kepada Santa Faustina dalam BHSF 367:
“Hati-Ku meluap-luap mengalirkan kerahiman yang melimpah kepada jiwa-jiwa, teristimewa kepada jiwa orang-orang berdosa yang malang.”
Yesus mengetahui bahwa manusia sering kali merasa tidak layak datang kepada-Nya. Kita mungkin merasa malu karena dosa, kecewa terhadap diri sendiri, atau bahkan merasa bahwa Tuhan sudah tidak berkenan kepada kita.
Namun Yesus justru berkata bahwa rahmat-Nya tersedia bagi kita. Ia tinggal dalam tabernakel sebagai Raja Kerahiman dan rindu melimpahkan rahmat-Nya kepada jiwa-jiwa.
Yang sering menjadi persoalan bukan karena Tuhan tidak mau memberikan rahmat, melainkan karena kita tidak mau menerimanya. Kita terlalu sibuk dengan kekhawatiran, ketidakpercayaan, atau merasa tidak pantas.
Matius memberikan contoh yang sederhana tetapi kuat. Ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” ia segera bangkit dan mengikuti Yesus.
Maka, pertanyaan bagi kita bukan hanya: “Apakah aku seorang berdosa?” Tetapi juga: “Apakah aku mau datang kepada Yesus dan menerima kerahiman-Nya?”
Dan setelah menerima kerahiman itu, apakah kita juga mau menjadi sarana kerahiman bagi orang lain?
Pesan untuk kita
Jangan pernah merasa bahwa dosa dan kelemahan membuat kita terlalu jauh untuk datang kepada Yesus.
Justru ketika kita sakit, kita membutuhkan Tabib. Ketika kita jatuh, kita membutuhkan tangan-Nya untuk membangkitkan. Ketika kita berdosa, kita membutuhkan Kerahiman-Nya.
Mari belajar seperti Matius: ketika Yesus memanggil, jangan terlalu banyak alasan. Bangkit, datang kepada-Nya, dan ikuti Dia.
Dan seperti pesan Yesus kepada Faustina, marilah kita juga berdoa bagi jiwa-jiwa yang belum mau menerima rahmat-Nya, agar semakin banyak orang mengenal bahwa Yesus adalah Bapa yang Mahabaik dan Raja Kerahiman yang selalu menanti kita.
Doa Penutup
Yesus yang Maharahim, terima kasih karena Engkau tidak menjauh dari kami ketika kami jatuh dalam dosa dan kelemahan. Engkau justru datang mencari kami dan memanggil kami untuk kembali kepada-Mu.
Bukalah hati kami agar kami tidak menolak rahmat-Mu karena ketidakpercayaan, kekhawatiran, atau merasa tidak layak.
Berikanlah kepada kami hati seperti Matius, yang segera bangkit dan mengikuti panggilan-Mu.
Dan jadikanlah hidup kami sarana kerahiman-Mu, agar melalui doa, perkataan, dan perbuatan kami, semakin banyak jiwa mengenal dan percaya kepada kasih-Mu.
Yesus, Raja Kerahiman, kami percaya kepada-Mu. Santa Faustina doakanlah kami.
Amin.
