Sabtu, 19 September 2026
Membuka Hati bagi Sabda dan Kerahiman Tuhan
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”Lukas 8:15 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Anak-Ku, dengarkanlah suara Bapamu yang Maharahim.” “Justru engkau, Anak-Ku, memiliki hak istimewa atas kerahiman-Ku. Biarlah kerahiman-Ku bekerja dalam jiwamu yang malang; biarlah sinar rahmat masuk ke dalam jiwamu; sinar itu akan membawa serta terang, kehangatan, dan kehidupan.”
Buku Harian Santa Faustina 1486
Salam Kerahiman🙏
Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah
Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus menggambarkan Firman Allah sebagai benih yang ditaburkan kepada setiap orang. Benih yang sama dapat menghasilkan buah yang berbeda, bukan karena benihnya kurang baik, tetapi karena keadaan tanah tempat benih itu jatuh.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Tuhan senantiasa menaburkan Sabda-Nya dan menawarkan kerahiman-Nya. Namun pertanyaannya adalah: bagaimana keadaan hati kita ketika mendengar suara-Nya?
BHSF 1486 menggambarkan sebuah jiwa yang tenggelam dalam kegelapan dan keputusasaan. Berkali-kali Yesus memanggilnya:
“Anak-Ku, dengarkanlah suara Bapamu yang Maharahim.”
Tetapi jiwa itu menutup telinga dan matanya. Ia merasa tidak layak menerima kerahiman dan berkata, “Bagiku tidak ada kerahiman.”
Bukankah terkadang kita juga seperti itu?
Ketika jatuh dalam dosa, mengalami kegagalan, kecewa, atau merasa tidak layak di hadapan Tuhan, kita bisa menjadi seperti tanah berbatu atau tanah yang penuh semak duri. Sabda Tuhan sudah kita dengar, tetapi kekhawatiran, rasa bersalah, ketakutan, dan keputusasaan membuat Sabda itu sulit berakar.
Namun BHSF 1486 menunjukkan sesuatu yang indah: Tuhan tidak berhenti memanggil.
Kerahiman-Nya terus mencari dan mengetuk hati manusia. Bahkan ketika kita merasa sudah terlalu jauh dari Tuhan, Yesus berkata:
“Jangan putus asa. Tidak segalanya hilang. Datanglah dan percayalah kepada Allahmu; Dia adalah Sang Kasih dan Sang Kerahiman.”
Ketika jiwa itu akhirnya membuka diri, Yesus mengangkatnya dari kepapaannya dan membawanya masuk ke dalam Hati-Nya. Di sana, dosa-dosanya lenyap dan ia mengalami kehidupan baru.
Inilah yang juga ditekankan dalam Injil: benih harus diterima, disimpan dalam hati, dan dipelihara dengan ketekunan sampai menghasilkan buah.
Kerahiman Tuhan selalu bekerja, tetapi kita dipanggil untuk membuka hati dan memberikan tanggapan. Jangan biarkan ketakutan, kekhawatiran, atau rasa tidak layak membuat kita menutup diri terhadap suara Tuhan.
Sebab mungkin hari ini Tuhan sedang berkata kepada kita:
“Anak-Ku, dengarkanlah suara Bapamu yang Maharahim.”
💕 Pesan untuk Kita
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Tanah seperti apakah hatiku hari ini?
Apakah Sabda Tuhan hanya sampai di telinga, atau sungguh masuk dan berakar di hati?
Ketika aku jatuh dan merasa tidak layak, apakah aku menjauh dari Tuhan atau justru datang kepada Kerahiman-Nya?
Jangan takut datang kepada Yesus. Hati-Nya adalah tempat kita menemukan kembali terang, kehangatan, kehidupan, dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
Biarlah Sabda Tuhan berakar dalam hati kita dan menghasilkan buah dalam kehidupan: iman yang teguh, kerendahan hati, kelembutan, pengampunan, dan kasih kepada sesama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Maharahim, lembutkanlah hati kami agar menjadi tanah yang baik bagi Sabda-Mu.
Ketika kami mengalami kelemahan, dosa, ketakutan, dan keputusasaan, jangan biarkan kami menjauh dari-Mu. Bukalah telinga dan hati kami agar kami mampu mendengar suara-Mu yang penuh kasih:
“Anak-Ku, dengarkanlah suara Bapamu yang Maharahim.”
Tanamkanlah Sabda-Mu semakin dalam di hati kami, agar kami mampu memeliharanya dengan ketekunan dan menghasilkan buah dalam kehidupan kami.
Yesus, kami percaya kepada-Mu. Biarlah Kerahiman-Mu bekerja dalam diri kami, memenuhi hati kami dengan terang, kehangatan, kehidupan, dan pengharapan.
Yesus, Engkaulah andalan kami. Santa Faustina doakanlah kami.
Amin.
