Rabu, 9 September 2026
Berbahagialah yang Miskin di Hadapan Allah
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”Lukas 6:20 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Aku ingin diriku sepenuhnya diubah menjadi kerahiman-Mu dan menjadi pantulan-Mu yang hidup. (BHSF 163)”
Buku Harian Santa Faustina
Salam Kerahiman🙏
Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah
Dalam Injil Lukas 6:20–26, Yesus menghadirkan ukuran kebahagiaan yang berbeda dari ukuran dunia. Dunia sering mengajarkan bahwa kebahagiaan ditemukan dalam kekayaan, kenyamanan, keberhasilan, pujian dan segala sesuatu yang membuat hidup terasa menyenangkan. Namun Yesus berkata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin.”
Kemiskinan yang dimaksud Yesus bukan sekadar keadaan tidak memiliki harta. Lebih dalam dari itu, Yesus mengajak kita memiliki hati yang miskin di hadapan Allah—hati yang menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan, tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, dan membuka diri untuk menerima kasih serta kerahiman-Nya.
Santa Faustina menunjukkan kepada kita bagaimana kemiskinan hati itu diwujudkan. Ia tidak ingin hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia berdoa agar dirinya diubah menjadi kerahiman Yesus dan menjadi pantulan-Nya yang hidup.
Menjadi pantulan kerahiman berarti membiarkan mata kita melihat sesama dengan belas kasih, telinga kita mendengarkan penderitaan mereka, lidah kita mengucapkan kata-kata penghiburan dan pengampunan, tangan kita melakukan perbuatan baik, kaki kita bergegas menolong, dan hati kita ikut merasakan penderitaan sesama.
Menariknya, Santa Faustina mengingatkan bahwa kerahiman dapat diwujudkan dalam tiga tingkatan: perbuatan, perkataan dan doa. Ketika kita tidak mampu menolong dengan tindakan, kita masih dapat memberikan penghiburan melalui perkataan. Dan ketika perkataan pun tidak mampu menjangkau seseorang, kita selalu dapat mendoakannya.
Di sinilah kita menemukan hubungan yang indah dengan Injil hari ini. Hati yang miskin di hadapan Allah tidak menjadi hati yang kosong, melainkan hati yang dipenuhi kerahiman dan kemudian membagikannya kepada sesama.
Pesan untuk Kita
Hari ini Yesus mengajak kita bertanya:
Apa yang selama ini menjadi sumber kebahagiaanku?
Apakah aku lebih mengandalkan apa yang kumiliki, pujian orang lain, kenyamanan dan keberhasilanku, atau sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan?
Mari belajar menjadi “miskin” di hadapan Allah: mengakui bahwa tanpa Dia kita tidak mampu berbuat banyak.
Dan setelah menerima kerahiman-Nya, jangan kita simpan hanya untuk diri sendiri. Biarlah kerahiman itu mengalir melalui mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan hati kita, sehingga orang lain dapat mengalami kasih Yesus melalui hidup kita.
Kiranya hidup kita menjadi pantulan kerahiman-Nya yang hidup.
Doa Penutup
Ya Yesus yang Maharahim, jadikanlah hati kami miskin di hadapan-Mu, agar kami selalu menyadari bahwa kami membutuhkan kasih dan kerahiman-Mu.
Ubahlah kami menjadi pantulan kerahiman-Mu yang hidup. Bukalah mata kami untuk melihat sesama dengan belas kasih, telinga untuk mendengarkan, lidah untuk menghibur dan mengampuni, tangan untuk menolong, kaki untuk bergegas melayani, dan hati untuk mengasihi tanpa pamrih.
Ajarlah kami melakukan kerahiman melalui perbuatan, perkataan dan doa. Semoga melalui hidup kami, semakin banyak orang mengalami kasih-Mu.
Yesus, ubahlah diriku menjadi diri-Mu sendiri, sebab tidak ada hal yang mustahil bagi-Mu. Amin. Santa Faustina, doakanlah kami.
Amin.
