Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Selasa, 8 September 2026

Yesus, Imanuel: Allah Beserta Kita

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Yesus, Imanuel: Allah Beserta Kita
“Mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.”Matius 1:23 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Hidupmu harus dibentuk seturut hidup-Ku, mulai dari palungan sampai ke kematian-Ku di salib. Resapilah misteri-misteri-Ku dan engkau akan mengetahui lubuk kerahiman-Ku terhadap semua ciptaan dan kebaikan-Ku yang tak terselami – dan ini akan engkau perkenalkan kepada dunia. (BHSF 438)”

Buku Harian Santa Faustina

Salam Kerahiman🙏

Shalom Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah

Injil Matius membawa kita kepada sebuah kabar yang sangat menghiburkan: Allah datang mendekat kepada manusia. Yesus hadir ke dunia dan disebut Imanuel — Allah beserta kita.

Silsilah Yesus yang panjang mengingatkan kita bahwa Allah berkarya dalam sejarah manusia, generasi demi generasi. Allah masuk ke dalam kehidupan manusia bukan melalui jalan yang selalu sempurna menurut ukuran kita, tetapi melalui manusia-manusia yang bersedia membuka hati terhadap kehendak-Nya.

Maria menerima kehendak Allah dengan iman. Yusuf pun belajar percaya ketika ia belum memahami seluruh rencana Tuhan. Ia tidak membiarkan ketakutan menghalanginya untuk taat.

Di sinilah kita menemukan hubungan yang indah dengan pesan Yesus kepada Santa Faustina dalam BHSF 438: “Hidupmu harus dibentuk seturut hidup-Ku, mulai dari palungan sampai ke kematian-Ku di salib.”

Yesus mengajak Faustina bukan hanya untuk mengenal-Nya, tetapi membentuk seluruh hidupnya seturut hidup Yesus. Dari palungan kita belajar kerendahan hati; dalam perjalanan hidup-Nya kita belajar kasih dan ketaatan; dan dalam salib kita belajar penyerahan diri.

Dengan meresapi misteri hidup Yesus, Faustina semakin mengenal lubuk Kerahiman Allah yang tak terselami. Dan setelah mengenalnya, ia dipanggil untuk memperkenalkan Kerahiman itu kepada dunia.

Bukankah ini juga menjadi panggilan kita?

Sering kali kita ingin memahami semuanya terlebih dahulu sebelum percaya. Kita ingin mengetahui jalan Tuhan sebelum berani melangkah. Namun Maria dan Yusuf mengajarkan bahwa iman berarti berani mempercayakan diri kepada Allah, bahkan ketika kita belum memahami seluruh rencana-Nya.

Sebab Imanuel — Allah beserta kita.

Ketika kita menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, pelayanan, kekecewaan, atau pergumulan hidup, kita tidak pernah berjalan sendirian. Allah hadir bersama kita. Kehadiran-Nya memberi kekuatan, pengharapan, dan keberanian untuk terus melangkah.

Karena itu, marilah kita belajar dari Maria, Yusuf, dan Santa Faustina: membuka hati terhadap kehendak Allah, membiarkan hidup kita dibentuk seturut hidup Yesus, dan menjadi saluran Kerahiman-Nya bagi sesama.

Mungkin melalui doa, pengampunan, perhatian, perkataan yang menguatkan, atau sebuah perbuatan kasih yang sederhana.

Yesus, Imanuel, hadir bersama kita.

Semoga kehadiran-Nya tidak hanya kita imani, tetapi juga kita wartakan melalui kehidupan kita, sehingga semakin banyak orang mengalami bahwa Allah sungguh dekat dan Kerahiman-Nya tidak pernah meninggalkan kita.

Pesan untuk Kita

Jangan takut menghadapi jalan hidup yang belum kita mengerti. Allah beserta kita. Seperti Maria dan Yusuf yang percaya dan taat pada kehendak Allah, kita pun diajak untuk menyerahkan hidup kepada-Nya.

Biarlah hidup kita semakin dibentuk seturut hidup Yesus: rendah hati seperti di palungan, setia dalam perjalanan, rela mengasihi dan mengampuni, serta mampu menyerahkan diri dalam setiap salib kehidupan.

Dan setelah mengalami Kerahiman-Nya, jangan kita simpan hanya untuk diri sendiri. Jadilah pembawa Kerahiman Allah bagi orang-orang di sekitar kita.

Doa Penutup

Engkaulah Allah yang selalu beserta kami.

Ajarlah kami untuk percaya kepada-Mu, bahkan ketika kami belum memahami jalan yang Engkau kehendaki.

Bentuklah hidup kami seturut hidup-Mu, agar melalui setiap perkataan, tindakan, doa, dan pelayanan kami, orang lain dapat mengalami kasih dan Kerahiman-Mu.

Jadikanlah kami saksi Kerahiman-Mu di tengah keluarga, komunitas, dan dunia.

Dalam setiap keadaan, semoga hati kami selalu berseru: Yesus, Engkaulah andalanku.

Santa Faustina, doakanlah kami.

Amin.