Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Jumat, 21 Agustus 2026

Mengasihi Allah, Menjadi Wajah KerahimanNya

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Mengasihi Allah, Menjadi Wajah KerahimanNya
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”Matius 22:37,39 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Aku memberi engkau tiga cara untuk mengamalkan belas kasih terhadap sesama: yang pertama: perbuatan, yang kedua: perkataan, yang ketiga: doa. (BHSF 742)”

Buku Harian Santa Faustina

Salam Kerahiman🙏 Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah

Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat.

Yesus menjawab dengan sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat dalam: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Dan Yesus melanjutkan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Dua perintah ini tidak dapat dipisahkan. Mengasihi Allah berarti membiarkan kasih Allah memenuhi hati kita, sampai kasih itu mengalir keluar dan menyentuh kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Inilah yang begitu indah kita temukan dalam Buku Harian Santa Faustina nomor 742.

Yesus meminta Faustina agar menjadi pribadi yang pertama-tama berharap sepenuhnya kepada kerahiman-Nya, tetapi sekaligus menjadi pribadi yang mengamalkan belas kasih kepada sesama.

Yesus bahkan memberikan tiga cara: melalui perbuatan, perkataan, dan doa.

Betapa sederhananya, tetapi juga betapa dalamnya permintaan Yesus ini.

Sebab terkadang kita merasa sudah mengasihi Tuhan karena kita rajin berdoa, mengikuti Misa, berdevosi, mendaraskan Koronka, atau menyebut nama Yesus dalam doa-doa kita.

Namun hari ini Yesus mengajak kita melihat lebih jauh ke dalam hati.

Apakah kasih kepada Tuhan yang kita ungkapkan dalam doa sudah menjadi kasih yang nyata dalam kehidupan kita?

Ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, apakah kita mau mengulurkan tangan?

Ketika ada seseorang yang sedang terluka oleh masalah hidupnya, apakah kita mau mendengarkan tanpa menghakimi?

Ketika ada orang yang menyakiti kita, apakah kita masih mau belajar mengampuni?

Dan ketika kita tidak mampu melakukan apa-apa, apakah kita mau membawanya dalam doa?

Di situlah kasih kepada Allah menjadi nyata.

Kerahiman tidak selalu hadir dalam perbuatan besar. Sering kali justru hadir dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan kasih: sebuah senyum, sebuah perhatian, sebuah perkataan yang menguatkan, kesediaan mendengarkan, memberi pertolongan, mengampuni, atau mendoakan seseorang secara diam-diam.

Bagi Yesus, semua itu sangat berarti.

Karena itu, menjadi seorang yang menghayati Kerahiman Ilahi bukan berarti hanya mengenal devosi kepada Kerahiman Ilahi, tetapi membiarkan diri kita menjadi saluran kerahiman Allah.

Kita telah begitu banyak menerima belas kasih Tuhan.

Tuhan mengampuni kita ketika kita jatuh. Tuhan tetap mencari kita ketika kita menjauh. Tuhan tidak meninggalkan kita ketika kita merasa tidak layak. Tuhan tetap membuka pintu ketika kita kembali kepada-Nya.

Maka, setelah menerima kerahiman itu, Tuhan mengajak kita untuk meneruskannya kepada sesama.

Mungkin ada seseorang di sekitar kita yang sebenarnya tidak membutuhkan banyak hal. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Mungkin ada seseorang yang sedang kecewa dan membutuhkan satu kalimat yang menguatkan.

Mungkin ada seseorang yang telah lama kita jauhi karena sebuah luka, dan hari ini Tuhan mengundang kita untuk mulai membuka pintu pengampunan.

Atau mungkin ada seseorang yang tidak kita sukai, tetapi Tuhan meminta kita untuk tetap mendoakannya.

Di situlah kasih diuji.

Sebab mengasihi orang yang mengasihi kita mungkin mudah. Tetapi mengasihi ketika hati kita terluka, mengampuni ketika kita merasa disakiti, tetap berbuat baik ketika tidak dihargai—di situlah kita sungguh belajar memiliki Hati Yesus yang Maharahim.

Pesan untuk Kita

Hari ini Yesus seolah bertanya kepada kita: “Kalau engkau sungguh mengasihi Aku, apakah kasih itu sudah dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarmu?”

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari pengalaman akan kasih Tuhan, tetapi lupa menjadi pengalaman kasih Tuhan bagi orang lain.

Jangan sampai kita rajin memohon kerahiman, tetapi sulit memberikan kerahiman.

Jangan sampai kita meminta Tuhan mengampuni kesalahan kita, tetapi kita sendiri terus menyimpan kesalahan orang lain di dalam hati.

BHSF 742 mengingatkan kita bahwa perbuatan, perkataan, dan doa adalah jalan yang dapat kita tempuh setiap hari untuk menghadirkan kerahiman.

Maka hari ini, mari kita mulai dari hal yang sederhana.

Lakukan satu perbuatan kasih. Ucapkan satu perkataan yang menguatkan. Dan panjatkan satu doa bagi seseorang yang membutuhkan kerahiman Tuhan.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbelas kasih.

Santa Faustina sendiri menyadari betapa kecil dan lemahnya dirinya. Karena itu ia berkata kepada Yesus: “O Yesusku, Engkau sendiri harus menolong aku dalam segala sesuatu…”

Doa Faustina ini juga menjadi doa kita.

Sebab kita tidak selalu mampu mengasihi dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan Yesus.

Mari kita datang kepada-Nya dan berkata: “Yesus, ajarlah aku mengasihi seperti Engkau mengasihi. Lembutkan hatiku ketika aku ingin menghakimi. Berikan aku kekuatan ketika aku sulit mengampuni. Gerakkan hatiku ketika aku melihat penderitaan sesama. Dan jadikanlah hidupku saluran kerahiman-Mu.”

Karena pada akhirnya, ukuran kasih kita kepada Allah bukan hanya seberapa banyak kita berbicara tentang Dia, tetapi seberapa nyata kasih-Nya hadir melalui hidup kita.

Semoga melalui perkataan kita, orang lain menemukan penghiburan.

Melalui perbuatan kita, mereka menemukan pertolongan.

Melalui doa kita, mereka menemukan kekuatan.

Dan melalui hidup kita, mereka boleh mengalami sedikit saja dari Hati Yesus yang penuh kerahiman.

Yesus, jadikanlah kami alat kerahiman-Mu. Agar kasih yang kami terima dari-Mu tidak berhenti dalam diri kami, tetapi mengalir kepada setiap orang yang kami jumpai.

Doa Penutup

Yesus Yang Maharahim, Engkau mengajarkan kami bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.

Ampunilah kami jika selama ini kami lebih mudah menerima kasih-Mu daripada membagikannya kepada orang lain.

Bukalah hati kami agar semakin peka terhadap mereka yang sedang menderita, kesepian, kecewa dan terluka.

Ajarlah kami mengamalkan kerahiman melalui perbuatan, perkataan dan doa.

Ketika kami sulit mengampuni, berilah kami hati-Mu. Ketika kami ingin menghakimi, berilah kami kelembutan-Mu. Ketika kami merasa tidak mampu menolong, ajarlah kami setidaknya untuk mendoakan.

Yesus, kami sadar bahwa kami kecil dan lemah. Karena itu, kami sungguh membutuhkan pertolongan-Mu.

Jadikanlah hati kami tempat mengalirnya kasih dan kerahiman-Mu, sehingga melalui hidup kami, semakin banyak orang merasakan bahwa Engkau sungguh hadir dan mengasihi mereka. Yesus, Engkaulah Andalanku. Semoga kami juga menjadi saluran kerahiman-Mu. Amin Santa Faustina doakanlah kami

Amin.