Rabu, 19 Agustus 2026
Jangan Menghitung Jasa, Bersyukurlah atas Kerahiman
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”Matius 20:15 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Karena kepapaanmu sedemikian besar, Aku telah menyatakan kepadamu seluruh lautan kerahiman-Ku... Kasih dan kerahiman-Ku tidak mengenal batas.” (BHSF 718)”
Buku Harian Santa Faustina
Salam Kerahiman🙏 Shalom saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur. Ada yang bekerja sejak pagi, ada yang mulai siang, bahkan ada yang baru bekerja satu jam sebelum hari berakhir. Namun semuanya menerima upah yang sama.
Mereka yang bekerja sejak pagi merasa keberatan. Mereka membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa lebih pantas menerima lebih banyak.
Bukankah sikap seperti itu terkadang juga ada dalam diri kita?
Kita mungkin berkata dalam hati, “Saya sudah lama melayani Tuhan. Saya sudah banyak berkorban. Mengapa orang yang baru datang juga menerima rahmat yang sama?”
Yesus mengingatkan kita bahwa rahmat Allah bukanlah sesuatu yang dapat kita ukur dengan jasa, lamanya pelayanan, atau pengorbanan kita.
Allah sungguh murah hati.
Hal ini semakin jelas ketika kita membaca pengalaman Santa Faustina dalam BHSF 718. Yesus berkata kepadanya: “Karena kepapaanmu sedemikian besar, Aku telah menyatakan kepadamu seluruh lautan kerahiman-Ku.”
Santa Faustina disadarkan bahwa di hadapan Allah, manusia sungguh papa dan tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri. Justru dalam kepapaan itulah manusia menemukan lautan kerahiman Allah.
Dan Yesus menegaskan: “Kasih dan kerahiman-Ku tidak mengenal batas.”
Betapa indahnya pesan ini bagi kita. Tidak ada seorang pun yang terlalu terlambat untuk datang kepada Tuhan.
Ada yang sejak kecil mengenal dan mencintai Tuhan. Ada yang baru menemukan-Nya setelah melewati perjalanan hidup yang panjang. Ada yang pernah jauh dan jatuh, tetapi kemudian kembali kepada-Nya.
Di mata manusia mungkin ia datang terlambat.
Tetapi bagi Allah, tidak pernah terlambat untuk menerima seseorang kembali.
Karena itu, kita tidak perlu iri ketika melihat Tuhan memberikan rahmat yang besar kepada orang lain. Jangan pula merasa lebih layak hanya karena kita telah lebih lama melayani.
Sebab pada akhirnya, kita semua adalah pekerja yang hidup karena kemurahan hati Sang Pemilik kebun anggur.
Kita tidak menerima rahmat karena kita hebat. Kita menerima rahmat karena Allah Maharahim.
Pesan untuk kita
Hari ini Yesus mengajak kita berhenti menghitung jasa dan mulai menghitung rahmat.
Jangan membandingkan perjalanan iman kita dengan perjalanan orang lain.
Jangan iri ketika melihat seseorang yang baru kembali kepada Tuhan mengalami begitu banyak berkat.
Sebaliknya, marilah kita bersyukur: “Tuhan, terima kasih karena Engkau juga memanggil dan menyelamatkan saudaraku.”
Dan ketika kita menyadari betapa besar kerahiman yang telah kita terima, kita pun dipanggil untuk menjadi murah hati kepada sesama.
Sebab orang yang sungguh mengalami kerahiman Tuhan tidak akan mudah menghakimi orang lain.
Ia akan belajar berkata:
“Aku pun hidup karena kerahiman-Mu, Tuhan. Maka ajarlah aku memberikan kerahiman yang sama kepada sesamaku.”
Doa Penutup
Ya Yesus yang Maharahim,
kami bersyukur karena kasih dan kerahiman-Mu tidak mengenal batas.
Ampunilah kami apabila masih sering menghitung jasa, membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa lebih layak menerima rahmat-Mu.
Ajarlah kami menyadari kepapaan kami dan semakin percaya kepada-Mu.
Ketika melihat orang lain menerima berkat-Mu, jauhkanlah kami dari iri hati dan ajarlah kami untuk bersukacita.
Jadikanlah kami pribadi yang murah hati, yang tidak mudah menghakimi, tetapi mampu melihat setiap orang dengan mata kerahiman-Mu.
Biarlah hidup kami menjadi tanda bahwa kerahiman-Mu selalu terbuka bagi setiap jiwa yang datang kepada-Mu. Yesus yang Maharahim, aku percaya kepada-Mu. Amin. Santa Faustina, doakanlah kami
Amin.
