Selasa, 18 Agustus 2026
Ketika Kehendakku Kuserahkan kepada Tuhan
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan segala sesuatu, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”Matius 19:29 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.” “Mulai hari ini, aku akan melakukan Kehendak Allah di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja. (BHSF 374)”
Buku Harian Santa Faustina
Salam Kerahiman🙏
Shalom, Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah,
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata bahwa sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bukan berarti kekayaan itu sendiri menjadi penghalang, tetapi keterikatan hati pada apa yang kita miliki dapat membuat kita sulit mengikuti Tuhan dengan bebas.
Sering kali kita berpikir bahwa yang harus kita lepaskan hanyalah harta benda. Padahal, ada sesuatu yang kadang jauh lebih sulit untuk kita lepaskan: kehendak kita sendiri.
Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana kita. Kita ingin doa kita dijawab seperti yang kita kehendaki. Kita ingin orang lain memahami kita, menghargai kita, dan bertindak sesuai keinginan kita.
Santa Faustina memberi teladan yang sangat dalam. Ia berkata:
“Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.”
Bukan berarti Faustina tidak lagi memiliki kehendak, tetapi ia belajar menyerahkan kehendaknya kepada Allah. Ia memilih untuk melakukan kehendak Tuhan “di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.”
Inilah yang juga diminta Yesus dari kita.
Mungkin Tuhan tidak meminta kita meninggalkan keluarga, pekerjaan, rumah atau harta yang kita miliki. Tetapi Tuhan mengundang kita untuk bertanya:
Apa yang masih terlalu sulit untuk kuserahkan kepada Tuhan?
Apakah keinginanku? Kekhawatiranku? Rencanaku? Kekecewaanku? Keinginanku untuk mengendalikan segala sesuatu?
Hari ini, marilah kita belajar seperti Santa Faustina: melepaskan kehendak sendiri dan memberi ruang bagi kehendak Allah.
Sebab ketika kita berani menyerahkan hidup kepada-Nya, kita tidak kehilangan sesuatu. Justru kita menemukan kebebasan yang sejati: bebas untuk percaya, bebas untuk mengasihi, dan bebas untuk mengikuti Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Maharahim, ajarilah kami untuk tidak melekat pada apa pun lebih daripada kepada-Mu.
Berilah kami keberanian untuk melepaskan kehendak kami sendiri dan menyerahkan segala rencana, keinginan, kekhawatiran, serta masa depan kami ke dalam tangan-Mu.
Seperti Santa Faustina, mampukan kami berkata:
“Tuhan, kehendakku bukanlah yang utama. Terjadilah kehendak-Mu dalam hidupku, di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.”
Kami percaya, ketika kami menyerahkan diri kepada-Mu, Engkau tidak akan meninggalkan kami, sebab kasih dan kerahiman-Mu selalu menyertai kami. Yesus, Engkaulah andalanku. Santa Faustina doakanlah kami.
Amin.
