Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Senin, 17 Agustus 2026

Milik Allah: Kehendak dan Seluruh Hidup Kita

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Milik Allah: Kehendak dan Seluruh Hidup Kita
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”Matius 22:21 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.” "Mulai hari ini, aku akan melakukan Kehendak Allah di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja. (BHSF No. 374)”

Buku Harian Santa Faustina

Salam Kerahiman.

Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah,

Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak. Namun Yesus tidak terjebak dalam pertanyaan mereka. Ia justru mengajak mereka melihat sesuatu yang jauh lebih dalam: apa yang menjadi milik manusia dan apa yang menjadi milik Allah.

Ketika Yesus melihat uang dinar, Ia bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Maka Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Uang itu memiliki gambar Kaisar, maka dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi bagaimana dengan kita?

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita adalah milik Allah.

Karena itu, ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang harus kita persembahkan kepada Allah: diri kita sendiri, kehendak kita, seluruh hidup kita.

Inilah yang sangat indah kita temukan dalam pengalaman rohani Santa Faustina pada BHSF No. 374. Ia menulis: “Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.”

Dan kemudian ia mengambil keputusan: “Mulai hari ini, aku akan melakukan Kehendak Allah di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.”

Saudara-saudari terkasih, Sering kali kita ingin melakukan kehendak Allah selama kehendak Allah itu sesuai dengan keinginan kita. Kita mudah berkata, “Tuhan, terjadilah kehendak-Mu,” tetapi ketika kenyataan tidak sesuai dengan rencana kita, hati mulai gelisah, kecewa, bahkan bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?”

Padahal, menyerahkan diri kepada Allah berarti belajar berkata:

“Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan, rencana, atau cita-cita. Kita tetap boleh merencanakan dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Tetapi pada akhirnya kita belajar meletakkan semuanya ke dalam tangan Allah dan percaya bahwa kehendak-Nya selalu membawa kita kepada kebaikan.

Santa Faustina bahkan mengatakan bahwa mulai hari itu ia tidak takut akan penghakiman Allah, karena ia telah menyerahkan kehendaknya kepada Tuhan.

Betapa dalam makna kalimat ini.

Ketika kita terus mempertahankan kehendak sendiri, kita sering hidup dalam kecemasan: takut gagal, takut kehilangan, takut rencana tidak terlaksana. Tetapi ketika kita belajar menyerahkan kehendak kepada Allah, perlahan-lahan hati memperoleh kebebasan.

Kita tidak lagi harus mengatur segala sesuatu menurut keinginan kita. Kita belajar percaya kepada Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Maka hari ini Yesus mengajak kita bertanya:

“Apa yang sudah menjadi milik Allah dalam hidupku, tetapi masih kupegang untuk diriku sendiri?”

Mungkin kehendak kita.

Mungkin sebuah rencana yang belum kita relakan.

Mungkin luka yang belum kita serahkan.

Mungkin seseorang yang sulit kita ampuni.

Mungkin pelayanan yang ingin kita lakukan menurut cara kita sendiri.

Atau mungkin kita masih ingin menentukan sendiri bagaimana Allah harus menjawab doa-doa kita.

Mari belajar dari Santa Faustina: memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah berarti memberikan kembali kepada-Nya seluruh kehendak dan hidup kita.

Dan ketika kita mampu berkata dengan tulus,

“Yesus, aku percaya kepada-Mu. Jadilah kehendak-Mu dalam hidupku,”

kita sedang membuka hati bagi karya Kerahiman Allah.

Pesan Bacaan hari ini :

• Kita adalah milik Allah, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.

• Berikan kepada Allah bukan hanya waktu dan tenaga, tetapi juga kehendak kita.

• Jangan memaksakan kehendak kita kepada Allah; belajarlah percaya pada kehendak-Nya.

• Melakukan kehendak Allah berarti belajar taat di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.

• Ketika kita menyerahkan kehendak kepada Allah, kita menemukan kedamaian dan kebebasan sejati.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau telah mengajarkan kami untuk memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah.

Hari ini kami menyadari bahwa seluruh hidup kami adalah milik-Mu. Namun sering kali kami masih mempertahankan kehendak kami sendiri. Kami ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana dan keinginan kami.

Ampunilah kami, Tuhan.

Seperti Santa Faustina, ajarlah kami berkata dengan tulus:

“Mulai hari ini, kehendakku sendiri sudah tidak ada.”

Ajarlah kami untuk melakukan kehendak-Mu di mana saja, kapan saja dan dalam apa saja.

Ketika jalan yang kami lalui tidak sesuai dengan keinginan kami, berilah kami kepercayaan.

Ketika doa kami belum terjawab, berilah kami kesabaran.

Ketika kami harus melepaskan sesuatu yang kami cintai, berilah kami ketulusan.

Dan ketika kami tidak memahami rencana-Mu, ajarlah kami tetap berkata:

“Yesus, aku percaya kepada-Mu.”

Kami menyerahkan seluruh kehendak, rencana, keluarga, pelayanan, pekerjaan, sukacita, pergumulan dan masa depan kami ke dalam tangan-Mu.

Biarlah kehendak-Mu menjadi kehendak kami dan kasih-Mu menjadi kekuatan hidup kami. Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, kami percaya kepada-Mu. Santa Faustina doakanlah kami

Amin.