Jumat, 14 Agustus 2026
Setia dalam Kasih dan Penyerahan Diri kepada Tuhan
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”Matius 19:6 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Cinta, demi cinta akan Dikau, o Tritunggal yang Mahakudus, aku mempersembahkan diriku kepada-Mu sebagai suatu kurban pujian, sebagai kurban penyerahan diri secara total. (BHSF no.239)”
Buku Harian Santa Faustina
Salam Kerahiman, Saudara-saudari terkasih dalam Kerahiman Allah.
Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian. Mereka ingin mengetahui apakah seseorang boleh menceraikan pasangannya dengan alasan apa saja. Namun Yesus mengarahkan mereka kembali kepada kehendak Allah sejak awal: apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Yesus mengingatkan bahwa kasih bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang kesetiaan dan penyerahan diri.
Hal ini kita lihat dengan sangat indah dalam pengalaman rohani Santa Faustina. Dalam BHSF 239, pada hari kaul kekalnya, Faustina mempersembahkan seluruh dirinya kepada Tuhan sebagai kurban cinta dan pujian. Ia berkata: “Hati-Mu adalah milikku dan hatiku seluruhnya adalah milik-Mu.”
Bagi Faustina, mencintai Yesus berarti menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. Ia bahkan memohon rahmat agar tidak dengan sengaja melukai Hati Yesus, sekalipun melalui dosa dan ketidaksempurnaan yang kecil.
Di sinilah Injil dan pengalaman Faustina bertemu: kasih yang sejati membutuhkan kesetiaan.
Dalam perkawinan, suami dan istri dipanggil untuk setia kepada janji yang telah mereka ikrarkan. Dalam hidup bakti, seseorang menyerahkan dirinya secara total kepada Kristus. Dan bagi kita semua sebagai umat beriman, ada satu panggilan yang sama: setia kepada Tuhan dan terus belajar menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya.
Kesetiaan tidak selalu mudah. Ada saat ketika kita kecewa, terluka, lelah, atau menghadapi kelemahan orang lain. Namun justru dalam keadaan seperti itu, kita dipanggil untuk kembali mengingat kasih Tuhan dan bertanya:
“Tuhan, bagaimana aku dapat tetap setia kepada-Mu dan kepada panggilan yang Engkau percayakan kepadaku?”
Santa Faustina mengajarkan bahwa penyerahan diri bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Penyerahan diri berarti tetap berkata “Ya” kepada Tuhan, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh tidak mudah.
Semoga kita pun belajar mencintai bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kesetiaan, pengorbanan, pengampunan, dan penyerahan diri.
Sebab ketika kita sungguh menyadari betapa besar Kerahiman Allah kepada kita, kita akan semakin terdorong untuk berkata:
“Yesus, aku percaya kepada-Mu. Hidupku adalah milik-Mu.”
Pesan Bacaan untuk Kita :
- Kasih sejati membutuhkan kesetiaan, bukan hanya ketika keadaan menyenangkan, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan.
- Penyerahan diri kepada Tuhan berarti mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
- Jangan mudah menyerah pada panggilan dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Mohonlah rahmat untuk tetap setia.
- Belajarlah dari Santa Faustina: semakin kita menyadari kasih dan Kerahiman Allah, semakin kita terdorong untuk mempersembahkan hidup kita kepada-Nya.
- Dalam setiap keadaan, marilah kita mengingat: “Hati-Mu adalah milikku dan hatiku seluruhnya adalah milik-Mu.”
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Maharahim, Engkau mengajarkan kami arti kasih yang sejati, kasih yang setia dan rela berkorban.
Ampunilah kami apabila selama ini kami mudah menyerah, mudah kecewa, dan kurang setia dalam menjalankan panggilan dan tanggung jawab yang Engkau percayakan kepada kami.
Ajarlah kami seperti Santa Faustina, untuk menyerahkan seluruh hidup kami kepada-Mu. Semoga hati kami semakin bersatu dengan Hati-Mu dan kami mampu berkata dengan tulus:
“Yesus, hatiku seluruhnya adalah milik-Mu.”
Berilah kekuatan kepada setiap keluarga agar mampu menjaga kesetiaan, saling mengampuni, dan tetap bertahan dalam kasih. Teguhkan pula setiap orang yang sedang bergumul dengan persoalan dalam hidupnya, agar tidak kehilangan harapan akan Kerahiman-Mu.
Tuhan, jadikanlah hidup kami sebagai persembahan cinta bagi-Mu dan bagi sesama, sehingga melalui kesetiaan kami, nama-Mu semakin dimuliakan.
Yesus, aku percaya kepada-Mu. Yesus, aku mengasihi-Mu. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Santa Faustina, doakanlah kami
Amin.
