Selasa, 11 Agustus 2026
Menjadi Kecil di Hadapan Kerahiman Allah
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”Matius 18:14 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Aku lemah dan kecil… dan dengan demikian, karena percaya akan kerahiman-Mu, aku berjalan melalui kehidupan seperti seorang anak kecil (BHSF 2)”
Buku Harian Santa Faustina
Dalam Injil hari ini, para murid bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Yesus mengajarkan bahwa jalan menuju Kerajaan Surga bukanlah tentang menjadi besar menurut ukuran dunia, melainkan merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil.
Seorang anak kecil memiliki hati yang sederhana. Ia percaya kepada orang tuanya, tidak merasa mampu melakukan segala sesuatu sendiri, dan dengan mudah menyerahkan dirinya kepada orang yang dikasihinya.
Demikian pula hubungan kita dengan Allah. Kita dipanggil untuk memiliki hati yang sederhana dan rendah hati, serta percaya sepenuhnya kepada kerahiman-Nya.
Santa Faustina menuliskan dalam Buku Hariannya: “Aku lemah dan kecil… dan dengan demikian, karena percaya akan kerahiman-Mu, aku berjalan melalui kehidupan seperti seorang anak kecil.”
Betapa indahnya sikap ini. Faustina tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia menyadari kelemahannya, tetapi justru di dalam kelemahan itu ia semakin percaya kepada Allah.
Kemudian Yesus berbicara tentang seekor domba yang tersesat. Sang gembala meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk mencari satu yang hilang. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap jiwa di mata Allah.
Tidak ada seorang pun yang boleh kita anggap tidak berarti. Bahkan ketika seseorang telah jauh dari Tuhan, Allah tetap mencarinya. Ia tidak menyerah. Ia ingin agar jiwa itu kembali dan mengalami kasih serta kerahiman-Nya.
Karena itu, Injil hari ini juga mengajak kita untuk melihat sesama dengan cara pandang Allah. Jangan mudah menghakimi mereka yang tersesat, lemah, atau jatuh dalam dosa. Mungkin mereka justru sedang menjadi “domba yang hilang” yang sangat dirindukan oleh Sang Gembala.
Kerahiman Allah tidak pernah lelah mencari kita. Ketika kita jatuh, Ia mencari kita. Ketika kita tersesat, Ia memanggil kita. Ketika kita merasa tidak layak, Ia tetap mengasihi kita.
Marilah kita belajar menjadi kecil di hadapan Allah: rendah hati, sederhana, dan penuh kepercayaan. Dan seperti Sang Gembala, marilah kita juga memiliki hati yang tidak mudah menyerah terhadap jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih dan kerahiman.
❤️ Pesan untuk Kita
Jangan takut menjadi kecil di hadapan Allah.
Semakin kita menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan kita, semakin kita belajar bersandar kepada kerahiman-Nya.
Dan jangan pernah menganggap ada jiwa yang sudah terlalu jauh untuk diselamatkan. Bagi Allah, setiap jiwa begitu berharga sehingga Ia rela mencari yang tersesat dan membawanya kembali kepada-Nya.
Mari menjadi kecil dalam kerendahan hati, besar dalam kepercayaan, dan luas dalam kerahiman kepada sesama.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Maharahim, ajarilah kami untuk memiliki hati seperti anak kecil: sederhana, rendah hati, dan penuh kepercayaan kepada-Mu.
Ketika kami merasa lemah, ingatkanlah kami bahwa kami tidak pernah sendirian, sebab kerahiman-Mu selalu menopang kami.
Yesus, Gembala yang baik, carilah dan tuntunlah kembali setiap jiwa yang tersesat. Jangan biarkan kami mudah menghakimi mereka yang jatuh, tetapi ajarilah kami untuk memiliki hati yang penuh kasih, kesabaran, dan kerahiman.
Jadikanlah kami alat-alat kerahiman-Mu, agar melalui perkataan, sikap, dan perbuatan kami, semakin banyak jiwa mengalami bahwa mereka tetap dicintai dan dirindukan oleh-Mu.
Yesus, aku percaya kepada-Mu. Yesus, Engkau andalanku
Amin.
