Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Senin, 10 Agustus 2026

MATI TERHADAP DIRI, HIDUP DALAM KEHENDAK ALLAH

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

MATI TERHADAP DIRI, HIDUP DALAM KEHENDAK ALLAH
“Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”Yohanes 12:24 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Yang paling erat menyatukan jiwa kita dengan Allah adalah penyangkalan diri; artinya, memadukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Inilah yang membuat jiwa sungguh bebas. (BHSF 462)”

Buku Harian Santa Faustina

Yesus memberikan kepada kita gambaran yang sederhana tetapi sangat dalam: sebutir biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati agar dapat menghasilkan buah.

Demikian pula kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Ada saatnya kita harus berani “mati” terhadap diri sendiri—mati terhadap ego, keinginan untuk selalu menang, keinginan untuk dipuji, kehendak yang ingin semuanya berjalan sesuai rencana kita.

“Mati” bukan berarti kehilangan diri kita, melainkan menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah.

Santa Faustina memahami hal ini dengan sangat indah. Dalam BHSF 462 ia menulis: “Kini, aku memahami dengan baik bahwa yang paling erat menyatukan jiwa kita dengan Allah adalah penyangkalan diri; artinya, memadukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Inilah yang membuat jiwa sungguh bebas...”

Sering kali kita mengira bahwa kebebasan berarti dapat melakukan apa saja yang kita inginkan. Namun bagi Santa Faustina, kebebasan sejati justru ditemukan ketika kita mampu berkata kepada Tuhan:

“Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.”

Ketika kita mau menyerahkan kehendak kita kepada Allah, mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang harus “mati”. Keinginan kita, rencana kita, bahkan sesuatu yang sangat kita sukai mungkin harus kita lepaskan.

Tetapi dari penyerahan itulah Allah dapat menumbuhkan sesuatu yang baru.

Seperti biji gandum yang tidak langsung terlihat buahnya ketika berada di dalam tanah, demikian pula pengorbanan dan penyangkalan diri kita kadang tidak langsung menunjukkan hasil. Kita mungkin merasa tidak ada yang berubah. Namun, di dalam keheningan dan penyerahan itu, Allah sedang bekerja.

Yesus kemudian berkata:

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku.”

Mengikuti Yesus berarti mengikuti jalan kasih-Nya. Dan kasih sejati selalu mengandung pemberian diri.

Ketika kita mau mengampuni meskipun terluka, bersabar ketika disalahpahami, tetap mengasihi ketika tidak dihargai, melakukan kebaikan tanpa mencari pujian, dan menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita sambil tetap percaya kepada Tuhan—di sanalah kita sedang belajar menjadi seperti biji gandum.

Kita sedang belajar mati terhadap diri sendiri supaya Kristus semakin hidup dalam diri kita.

Dan ketika kita sungguh menyerahkan kehendak kita kepada Allah, sebagaimana dikatakan Santa Faustina, “semua beban hidup menjadi ringan, dan kematian menjadi manis.”

Semoga setiap penyangkalan diri yang kita lakukan dengan kasih tidak menjadi sesuatu yang sia-sia, tetapi menjadi persembahan kecil yang dipakai Tuhan untuk menghasilkan buah bagi kehidupan kita dan bagi jiwa-jiwa yang dipercayakan-Nya kepada kita.

💌 Pesan untuk Kita

Jangan takut ketika Tuhan meminta kita melepaskan sesuatu.

Mungkin hari ini kita harus melepaskan ego, keinginan untuk menang sendiri, rasa sakit hati, keinginan untuk dipuji, atau rencana yang sangat kita inginkan.

Percayalah, tidak ada penyerahan diri yang sia-sia di hadapan Allah.

Seperti biji gandum yang mati untuk menghasilkan buah, demikian pula setiap penyangkalan diri yang kita persembahkan dalam kasih dapat menjadi jalan bagi Allah untuk menghasilkan buah yang berlimpah.

Mari belajar berkata: “Yesus, aku percaya kepada-Mu. Aku menyerahkan kehendakku ke dalam kehendak-Mu. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi dalam hidupku.”

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang Maharahim, Engkau mengajarkan kami bahwa sebutir biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan banyak buah.

Ajarlah kami untuk berani menyangkal diri dan melepaskan kehendak kami ketika tidak sesuai dengan kehendak-Mu.

Ketika kami sulit menerima keadaan, berikanlah kami kerendahan hati. Ketika kami terluka, berikanlah kami hati yang mampu mengampuni. Ketika kami kecewa, teguhkanlah kepercayaan kami kepada-Mu. Dan ketika kami harus melepaskan sesuatu yang kami cintai, ajarlah kami untuk percaya bahwa kehendak-Mu selalu lebih baik daripada kehendak kami.

Yesus, bantulah kami agar tidak hanya mencari kenyamanan bagi diri sendiri, tetapi belajar memberikan hidup kami bagi-Mu dan bagi sesama.

Semoga melalui setiap pengorbanan kecil, penyangkalan diri, dan ketaatan kami, hidup kami dapat menghasilkan buah kasih dan menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu.

Santa Faustina, doakanlah kami agar kami semakin mampu memadukan kehendak kami dengan kehendak Allah dan menemukan kebebasan sejati di dalam-Nya.

Yesus, Engkau andalanku. Kerahiman-Mu adalah harapanku.

Amin.