Logo Komunitas Kerahiman IlahiKerahiman IlahiKomunitas · Paroki Karawaci

Senin, 3 Agustus 2026

Pengharapan yang Tidak Pernah Tenggelam

oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

Pengharapan yang Tidak Pernah Tenggelam
“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”Matius 14:27 (Alkitab Terjemahan Baru)

“Rahmat kerahiman-Ku hanya dapat diperoleh dengan menggunakan satu bejana, yakni pengharapan. Semakin besar pengharapan suatu jiwa, semakin banyak rahmat yang akan ia terima (BHSF 1578)”

Buku Harian Santa Faustina

Hidup tidak selalu berjalan tenang. Ada saat-saat ketika kita seperti para murid yang berada di tengah danau, diterpa angin sakal dan ombak yang mengancam. Di tengah ketakutan itu, Yesus datang menghampiri mereka sambil berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Petrus menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia melangkah keluar dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Tuhan, ia mampu melakukan sesuatu yang mustahil. Namun ketika ia mulai memandang besarnya ombak dan kerasnya angin, rasa takut menguasainya. Ia pun mulai tenggelam.

Bukankah demikian pula kehidupan kita? Ketika perhatian kita lebih tertuju pada masalah daripada kepada Tuhan, iman mulai goyah, harapan memudar, dan hati dipenuhi kecemasan. Namun Injil hari ini memberikan penghiburan yang indah. Saat Petrus berseru, "Tuhan, tolonglah aku!", Yesus segera mengulurkan tangan-Nya. Tuhan tidak membiarkan Petrus tenggelam.

Pesan yang sama ditegaskan dalam Buku Harian Santa Faustina. Yesus berkata bahwa rahmat kerahiman-Nya hanya dapat diperoleh dengan satu bejana, yaitu pengharapan. Semakin besar pengharapan kita kepada-Nya, semakin besar pula rahmat yang dicurahkan-Nya. Tuhan bahkan rindu agar kita meminta rahmat dalam jumlah yang besar, sebab hati-Nya tidak pernah lelah memberi.

Sering kali kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sempit. Kita merasa dosa kita terlalu besar, masalah kita terlalu berat, atau doa kita terlalu kecil untuk didengarkan. Padahal Yesus mengundang kita untuk memiliki pengharapan tanpa batas. Ia ingin kita percaya bahwa kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada badai apa pun yang sedang kita hadapi.

Maka, ketika hidup terasa seperti lautan yang bergelora, jangan biarkan mata kita hanya tertuju pada ombak. Pandanglah Yesus. Berserulah kepada-Nya. Tangan yang dahulu mengangkat Petrus tetap terulur hari ini untuk menopang setiap orang yang berharap kepada-Nya.

Pesan untuk Kita

- Jangan biarkan badai kehidupan lebih menguasai hati daripada kehadiran Yesus.

- Tetaplah memandang Yesus, bukan besarnya persoalan yang sedang dihadapi.

- Beranilah berharap tanpa batas kepada Kerahiman Ilahi, karena Tuhan rindu melimpahkan rahmat-Nya.

- Ketika merasa mulai "tenggelam", jangan menyerah. Berserulah kepada Yesus, sebab tangan-Nya selalu siap mengangkat kita.

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang Maharahim, di tengah badai kehidupan kami sering kali hati kami dipenuhi rasa takut dan kehilangan harapan. Ajarlah kami untuk selalu memandang kepada-Mu dan percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami.

Tanamkanlah dalam hati kami pengharapan yang tanpa batas kepada Kerahiman-Mu, sebagaimana Engkau ajarkan kepada Santa Faustina. Ketika kami mulai goyah dan tenggelam oleh beban hidup, ulurkanlah tangan-Mu untuk mengangkat dan menguatkan kami. Semoga kami semakin percaya bahwa semakin besar pengharapan kami kepada-Mu, semakin besar pula rahmat yang Engkau curahkan.

Jadikanlah hidup kami saksi akan kasih dan kerahiman-Mu bagi setiap orang yang kami jumpai.

Yesus, Engkaulah andalanku dan harapanku, kepada-Mu aku percaya. Santa Faustina, doakanlah kami.

Amin.