Sabtu, 1 Agustus 2026
Setia pada Kebenaran, Meski Harus Menderita
oleh Brigitta Dwiyana Taurisia

“Herodes menyuruh memenggal kepala Yohanes di penjara”Matius 14:10 (Alkitab Terjemahan Baru)
“Penderitaan adalah harta terbesar di bumi ini; penderitaan mampu memurnikan jiwa. Dengan penderitaan, kita mengetahui siapa sahabat sejati kita. Cinta sejati diukur dengan menggunakan penderitaan. (BHSF 342)”
Buku Harian Santa Faustina
Yohanes Pembaptis adalah seorang saksi kebenaran yang tidak takut menyampaikan kehendak Allah, sekalipun hal itu membahayakan dirinya. Ia menegur Raja Herodes karena hidup dalam dosa. Teguran itu membuatnya dipenjara, dan akhirnya ia dihukum mati. Yohanes tidak mencari penderitaan, tetapi ia tidak pernah mengorbankan kebenaran demi kenyamanan atau keselamatan dirinya.
Buku Harian Santa Faustina No. 342 mengajak kita memandang penderitaan dari sudut pandang Allah. Yesus mengajarkan bahwa penderitaan yang dipersembahkan dengan kasih bukanlah sesuatu yang sia-sia. Justru melalui penderitaan, jiwa dimurnikan, iman diteguhkan, dan kasih kepada Tuhan dibuktikan. Cinta sejati tidak hanya tampak ketika semuanya berjalan baik, tetapi terutama ketika kita tetap setia di tengah kesulitan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak dipanggil menjadi martir seperti Yohanes Pembaptis. Namun, kita sering menghadapi "kemartiran kecil": tetap jujur meski dirugikan, mempertahankan iman meski diejek, mengampuni ketika disakiti, dan melakukan yang benar meski tidak dihargai. Kesetiaan seperti inilah yang berkenan di hadapan Tuhan.
Semoga teladan Yohanes Pembaptis dan ajaran Yesus kepada Santa Faustina meneguhkan kita untuk tidak takut memikul salib kehidupan. Sebab setiap penderitaan yang dipersatukan dengan Kristus akan menjadi jalan menuju kekudusan dan kemuliaan bersama-Nya.
Pesan untuk Kita
Jangan takut menderita karena melakukan yang benar. Kesetiaan kepada Kristus kadang menuntut pengorbanan, tetapi tidak pernah sia-sia. Persembahkan setiap salib kehidupan kepada Tuhan, karena melalui penderitaan yang dijalani dengan kasih, Ia memurnikan hati dan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan-Nya.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang Maharahim, Engkau telah menunjukkan bahwa jalan menuju kemuliaan melewati salib. Berilah kami keberanian seperti Yohanes Pembaptis untuk tetap setia kepada kebenaran, meskipun harus menghadapi penderitaan. Mampukan kami menerima setiap salib dengan iman, menjadikannya persembahan kasih kepada-Mu, dan percaya bahwa Engkau selalu menyertai kami. Semoga hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu dan membawa sesama semakin dekat kepada kerahiman-Mu. Santa Faustina doakanlah kami.
Amin.
